spotthenumber.com Di berbagai kota, kita masih dapat menemukan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang hidup dan beraktivitas di jalanan. Mereka mungkin terlihat berjalan tanpa tujuan, berbicara sendiri, tidur di tempat umum, atau mengenakan pakaian yang tidak terawat. Pemandangan tersebut terkadang menimbulkan rasa takut, bingung, atau bahkan membuat sebagian masyarakat menjauh. Namun, di balik kondisi tersebut terdapat persoalan kesehatan, sosial, ekonomi, dan keluarga yang tidak sederhana.
ODGJ yang hidup di jalanan bukan sekadar masalah ketertiban umum. Mereka adalah manusia yang memiliki martabat, kebutuhan, dan hak untuk memperoleh pertolongan. Karena itu, penanganannya membutuhkan pendekatan yang mengutamakan keselamatan, kesehatan, dan kemanusiaan.
Mengapa Seseorang Bisa Hidup di Jalanan?
Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan seseorang dengan gangguan jiwa akhirnya hidup di jalanan. Salah satunya adalah kondisi keluarga. Tidak semua keluarga memiliki pengetahuan, kemampuan, atau sumber daya yang cukup untuk merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.
Faktor ekonomi juga dapat memperburuk keadaan. Perawatan kesehatan, tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, dan kebutuhan lainnya dapat menjadi beban bagi keluarga yang memiliki keterbatasan finansial.
Selain itu, seseorang yang mengalami gangguan jiwa dapat mengalami kesulitan mempertahankan pekerjaan, mengurus kebutuhan sehari-hari, atau membangun hubungan sosial. Jika tidak mendapatkan dukungan yang memadai, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kehilangan tempat tinggal dan akhirnya hidup di jalanan.
Stigma terhadap Gangguan Jiwa
Salah satu tantangan terbesar adalah stigma. Orang dengan gangguan jiwa terkadang dianggap sebagai orang yang berbahaya, malas, atau tidak memiliki harapan untuk pulih. Pandangan seperti ini dapat membuat mereka semakin terisolasi.
Padahal, gangguan jiwa merupakan kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian dan penanganan. Kondisi setiap orang juga berbeda. Tidak semua orang dengan gangguan jiwa menunjukkan perilaku yang sama, dan seseorang tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan penampilannya.
Stigma dapat membuat seseorang dan keluarganya enggan mencari bantuan. Oleh karena itu, edukasi masyarakat menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih memahami kesehatan jiwa.
Kehidupan yang Penuh Risiko
Hidup di jalanan membuat seseorang menghadapi berbagai risiko. Mereka dapat kesulitan memperoleh makanan, air bersih, tempat tidur yang aman, pakaian yang layak, serta akses terhadap layanan kesehatan.
Mereka juga dapat menjadi korban kekerasan, penipuan, eksploitasi, atau kecelakaan lalu lintas. Kondisi kesehatan fisik dapat memburuk karena kurangnya kebersihan dan sulitnya mendapatkan pengobatan secara teratur.
Bagi seseorang yang mengalami gangguan jiwa, kehidupan tanpa tempat tinggal yang aman juga dapat membuat proses pemulihan menjadi lebih sulit. Ketidakstabilan lingkungan dapat menyebabkan kebutuhan kesehatan dan sosial tidak tertangani dengan baik.
Pentingnya Pendekatan yang Manusiawi
Ketika menemukan ODGJ di jalanan, masyarakat sebaiknya tidak langsung melakukan tindakan yang kasar atau mempermalukan orang tersebut. Jika situasinya aman, bantuan dapat diberikan dengan cara yang tenang dan tidak mengancam.
Apabila orang tersebut terlihat membutuhkan pertolongan medis atau berada dalam kondisi yang membahayakan dirinya maupun orang lain, masyarakat dapat menghubungi layanan darurat atau fasilitas kesehatan setempat. Penanganan sebaiknya dilakukan oleh pihak yang memiliki kemampuan untuk menilai kondisi dan memberikan bantuan.
Yang juga penting adalah menjaga martabat orang tersebut. Mengambil foto atau video untuk disebarkan di media sosial tanpa persetujuan dapat memperburuk stigma dan mempermalukan seseorang yang sedang berada dalam kondisi rentan.
Peran Keluarga dan Masyarakat
Keluarga memiliki peran penting dalam mendukung proses pemulihan. Dukungan dapat berupa membantu seseorang mendapatkan pemeriksaan, mengikuti pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta menciptakan lingkungan yang aman dan tidak menghakimi.
Masyarakat juga dapat berkontribusi melalui kepedulian dan pemahaman. Bantuan tidak selalu harus berupa uang. Memberikan informasi mengenai layanan kesehatan, menghubungi pihak yang dapat membantu, atau memperlakukan seseorang dengan hormat juga merupakan bentuk kepedulian.
Di sisi lain, penanganan masalah ODGJ yang hidup di jalanan membutuhkan kerja sama berbagai pihak, termasuk tenaga kesehatan, pemerintah, organisasi sosial, keluarga, dan masyarakat. Masalah tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan memindahkan seseorang dari satu tempat ke tempat lain tanpa memberikan dukungan yang berkelanjutan.
Mengubah Cara Pandang
Cara masyarakat memandang ODGJ perlu diarahkan dari rasa takut dan stigma menuju pemahaman. Seseorang yang mengalami gangguan jiwa tetap memiliki nilai dan martabat sebagai manusia.
Kita juga perlu memahami bahwa kondisi seseorang dapat berubah. Dengan dukungan yang tepat, sebagian orang dapat menjalani kehidupan yang lebih stabil dan berfungsi kembali dalam keluarga maupun masyarakat.
Membantu bukan berarti membiarkan perilaku yang membahayakan. Keselamatan tetap menjadi hal penting. Namun, keselamatan dapat diupayakan bersamaan dengan pendekatan yang menghormati hak dan kemanusiaan.
Kesimpulan
ODGJ yang hidup di jalanan merupakan persoalan yang memiliki banyak sisi, mulai dari kesehatan jiwa, keluarga, ekonomi, tempat tinggal, hingga stigma sosial. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar pemindahan dari jalanan. Mereka membutuhkan akses terhadap layanan kesehatan, tempat tinggal yang aman, dukungan keluarga, serta kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan yang lebih stabil.
Masyarakat memiliki peran penting dengan mengurangi stigma, tidak mempermalukan mereka, dan menghubungkan orang yang membutuhkan dengan layanan yang tepat. Dengan pendekatan yang manusiawi dan kerja sama berbagai pihak, persoalan ODGJ yang hidup di jalanan dapat ditangani dengan lebih baik sekaligus tetap menghormati martabat setiap manusia.
